26 Juni 2026•Update: 26 Juni 2026
Korea Selatan akan mempercepat pengerahan sistem drone bunuh diri jarak jauh yang dikembangkan di dalam negeri sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan perang nirawak di tengah perubahan karakter peperangan modern, kata Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back pada Jumat.
Dalam konferensi pers, Ahn mengatakan peperangan modern telah berubah seiring meluasnya penggunaan drone berbiaya rendah, sementara Korea Utara terus meningkatkan kemampuan pesawat nirawaknya sehingga menimbulkan ancaman yang semakin besar terhadap kekuatan militer, infrastruktur vital, dan fasilitas sipil, menurut kantor berita Yonhap.
"Kami akan mempercepat pengerahan amunisi berkeliaran jarak jauh bergaya Korea, K-Lucas, yang dapat dimanfaatkan secara strategis dalam peperangan modern," kata Ahn.
K-Lucas merupakan amunisi berkeliaran (loitering munition) atau drone bunuh diri jarak jauh yang dirancang untuk melayang di atas target sebelum menghantam sasaran dan menghancurkan dirinya sendiri saat terjadi benturan.
Sistem tersebut dilaporkan dikembangkan melalui rekayasa balik dari drone Shahed-136 milik Iran yang telah banyak digunakan dalam berbagai konflik dalam beberapa tahun terakhir.
Korea Selatan juga berencana mengakuisisi lebih dari 20.000 drone berbiaya rendah, termasuk drone pengintai dan amunisi berkeliaran, hingga 2030. Selain itu, Seoul juga mengembangkan teknologi generasi berikutnya, seperti kawanan drone berbasis kecerdasan buatan (AI).
Ahn juga menegaskan kembali target pemerintah untuk melatih 500.000 "prajurit drone" guna memastikan seluruh personel militer memiliki kemampuan mengoperasikan drone.