Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan menyerukan agar seluruh pembatasan kerja sama pertahanan di antara negara-negara anggota NATO dihapus, terutama yang berkaitan dengan industri pertahanan.
Berbicara dalam pertemuan Dewan Atlantik Utara di tingkat kepala negara dan pemerintahan di Ankara, Rabu, Erdoğan mengatakan negara-negara sekutu harus memperkuat kerja sama pertahanan tanpa mengurangi soliditas aliansi.
"Pembatasan di antara sekutu terkait kerja sama pertahanan, khususnya di industri pertahanan, harus dihapus," kata Erdogan.
Ia menegaskan bahwa ketika negara-negara Eropa mengambil tanggung jawab yang lebih besar terhadap pertahanan benua, mereka harus menghindari kebijakan yang dapat melemahkan persatuan NATO maupun hubungan transatlantik.
Menurut Erdoğan, salah satu pencapaian terbesar Turkiye dalam beberapa tahun terakhir adalah kemajuan pesat industri pertahanannya.
"Keberhasilan terbesar negara kami terletak pada terobosan yang telah kami capai di industri pertahanan," ujarnya.
Ia mengatakan Turkiye kini menjadi salah satu dari 10 negara teratas di dunia dalam kapasitas produksi dan ekspor industri pertahanan.
Belanja pertahanan naik menjadi 3,5 persen
Erdogan juga menegaskan komitmen Ankara untuk meningkatkan kontribusinya terhadap NATO dengan menaikkan belanja pertahanan.
Menurutnya, Turkiye telah mengambil langkah untuk meningkatkan belanja pertahanan hingga mencapai 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) sebelum 2030.
Selain itu, pemerintah Türkiye telah mengalokasikan sekitar 1,5 persen anggaran negara untuk pengeluaran yang berkaitan dengan keamanan dan ketahanan nasional.
Erdogan juga mengumumkan tambahan investasi sebesar US$24 miliar untuk proyek sistem pertahanan udara dan rudal Steel Dome, yang disebutnya bertujuan memperkuat salah satu kemampuan paling penting NATO.
Ia menambahkan bahwa Turkiye, yang memiliki angkatan darat terbesar di Eropa, siap mengerahkan kemampuan militernya untuk mendukung NATO kapan pun diperlukan.
Menurut Erdogan, Turkiye juga menjadi salah satu kontributor utama dalam berbagai operasi, misi, dan latihan NATO di Kosovo, kawasan Laut Hitam, wilayah Baltik, serta sejumlah kawasan lainnya.
Ia berharap NATO memberikan akreditasi terhadap rencana pendirian Center of Excellence for Countering Unmanned Systems, pusat unggulan yang berfokus pada penanggulangan ancaman sistem tanpa awak.
"Saya yakin pusat ini akan memperkuat kemampuan kita menghadapi ancaman, khususnya dari drone udara maupun maritim," katanya.
Dukung solusi dua negara
Mengenai situasi di Timur Tengah, Erdogan kembali menegaskan dukungan Turkiye terhadap solusi dua negara sebagai jalan menuju perdamaian antara Israel dan Palestina.
"Saya kembali menegaskan bahwa solusi dua negara merupakan kunci bagi perdamaian yang langgeng di Timur Tengah," ujarnya.
Ia juga menyerukan seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga ketenangan, khususnya di Gaza dan Lebanon.
Selain itu, Erdogan meminta seluruh anggota NATO menunjukkan solidaritas penuh dalam memerangi terorisme.
Terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Erdogan menyambut baik sikap Presiden AS Donald Trump yang menurutnya membantu mengarahkan penyelesaian krisis ke jalur yang tepat.
"Saya mengapresiasi sikap tegas yang didukung sahabat saya, Tuan Trump, yang telah membantu mengarahkan penyelesaian krisis Iran ke jalur yang benar, meskipun ada berbagai upaya sabotase," kata Erdogan.
Ia juga menyatakan Turkiye siap berkontribusi dalam upaya pembersihan ranjau di Selat Hormuz.
Mengenai perang di Ukraina, Erdoğan mengatakan Turkiye terus menjaga komunikasi dengan Kyiv maupun Moskow untuk mendorong tercapainya perdamaian.
"Sambil terus mendukung Ukraina, kami juga memanfaatkan jalur komunikasi dengan Rusia untuk mendorong terciptanya perdamaian," ujarnya.
Erdogan turut menyatakan dukungannya terhadap inisiatif Trump untuk mengakhiri perang di Ukraina.
"Kami berbagi visi Tuan Trump mengenai perdamaian dalam perang Ukraina dan mendukung inisiatif yang menjawab kebutuhan utama Ukraina," katanya.