Rhany Chairunissa Rufinaldo
14 Maret 2019•Update: 15 Maret 2019
Md. Kamruzzaman
DHAKA, Bangladesh
Sejumlah pakar pada Rabu mengatakan kamp-kamp Rohingya di Bangladesh menghadapi ancaman topan dan menegaskan bahwa langkah-langkah harus diambil secara terkoordinasi menjelang musim hujan untuk mengatasi faktor-faktor risiko.
Para ahli berbicara di sebuah lokakarya, berjudul Kesiapan Siklon dan Musim Hujan: Distrik Cox’s Bazar dan Kamp Permukiman, yang secara bersama-sama diselenggarakan oleh Kelompok Koordinasi Antar Sektor (ISCG) dan pemerintah Bangladesh di kota Cox’s Bazar, kata siaran pers yang dirilis oleh Program Pembangunan PBB (UNDP).
"Kami memiliki 6.585 relawan yang siap untuk membantu para pengungsi Rohingya di Bangladesh selama musim hujan, di antaranya 990 di Teknaf, 375 di Ukhiya dan 1.180 di Cox's Bazar," ujar Ahmadul Haq, direktur Program Kesiapsiagaan Siklon, pada hari pertama lokakarya.
Filip Papas, koordinator senior ISCC, mengatakan risiko tanah longsor selama dan setelah topan sangat tinggi karena pemukiman kamp Rohingya sangat padat dan dibangun dari bahan yang sangat rapuh.
"Kolaborasi dan kerja sama antara semua organisasi yang bekerja di Cox's Bazar untuk pengurangan risiko di kamp Rohingya sangat penting," tegas Md Rafiqul Islam Babu, wakil sekretaris jenderal Masyarakat Bulan Sabit Merah Bangladesh.
Kelompok yang teraniaya
Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan yang terus meningkat sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.
Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 24.000 Muslim Rohingya telah dibunuh oleh tentara Myanmar.
Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dibakar, sementara lebih dari 114.000 lainnya dipukuli, menurut laporan OIDA yang berjudul 'Migrasi Paksa Rohingya: Pengalaman yang Tak Terkira'.
Sekitar 18.000 perempuan Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah Rohingya dibakar sementara 113.000 lainnya dirusak.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas pada Agustus 2017.
PBB mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan brutal, dan penculikan yang dilakukan oleh personil keamanan.
Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.