Rabia Iclal Turan
22 Juli 2026•Update: 22 Juli 2026
Amerika Serikat telah menghabiskan sekitar USD37,5 miliar untuk perang melawan Iran sejak konflik dimulai sekitar lima bulan lalu, kata Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam sidang Senat pada Selasa.
Ia juga mengklaim kemampuan militer Iran kini berada pada titik terlemah dalam beberapa dekade setelah ribuan rudal balistik negara itu dihancurkan.
"Kami memperkirakan hingga hari ini biayanya mencapai USD37,5 miliar," kata Hegseth saat menjawab pertanyaan mengenai pengeluaran perang dalam sidang Komite Alokasi Anggaran Senat.
Sidang tersebut membahas permintaan tambahan anggaran Pentagon sebesar USD67 miliar yang berkaitan dengan perang melawan Iran.
Iran diklaim berada di titik terlemah
Dalam keterangannya, Hegseth menyatakan Iran kini berada "pada titik terlemah secara militer dalam satu dekade terakhir," bahkan kemungkinan menjadi yang terlemah dalam 47 tahun terakhir.
Ia juga mengklaim ribuan rudal balistik Iran telah dihancurkan selama konflik berlangsung.
AS klaim tetap kendalikan pelayaran di Selat Hormuz
Menanggapi pertanyaan mengenai kemampuan Iran mengurangi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, Hegseth mengatakan Amerika Serikat telah memindahkan antara 200 juta hingga 500 juta barel minyak melewati kawasan tersebut "di bawah hidung Iran."
Menurutnya, operasi itu dilakukan secara rahasia karena dinilai lebih efektif dibandingkan dilakukan secara terbuka.
"Kami telah mengendalikan pergerakan lalu lintas di sana selama cukup lama," ujarnya.
Hegseth juga mengatakan setelah tercapainya gencatan senjata, Iran kembali menyerang kapal-kapal komersial.
Rusia dan China disebut bantu Iran
Saat ditanya mengenai kemungkinan dukungan Rusia dan China kepada Iran, Hegseth mengatakan memang terdapat "keselarasan di antara pihak-pihak yang menjadi lawan" dan upaya untuk bekerja sama.
Ia menegaskan Washington memiliki "banyak cara" untuk mencegah kerja sama tersebut, meski sebagian langkah itu tidak dapat diungkapkan ke publik.
Menurut Hegseth, baik Rusia maupun China, dalam tingkat yang berbeda, telah membantu sebagian aktivitas Iran.
Kekuatan udara dinilai memiliki keterbatasan
Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine, yang turut hadir dalam sidang, ditanya apakah kekuatan udara saja dapat mengalahkan Iran.
Menurut Caine, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kekuatan udara memiliki keterbatasan dan hal tersebut harus selalu menjadi pertimbangan dalam setiap operasi militer.